Kesenian
tradisional yang merakyat dan ekonomis memang sangat digemari oleh khalayak
masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan perilaku masyarakat yang senantiasa
lebih memilih untuk menikmati pertunjukan gratis tanpa tarikan harga tiket
masuk. Berbeda dengan perilaku masyarakat kekinian
atau modern yang tak sungkan dilakukan dengan membeli tiket harga yang
mahal, demi tercapainya keinginan untuk menikmati atau menonton artis atau pun
tokoh idolanya.
Berbicara mengenai kesenian
tradisional, Indonesia memiliki banyak sekali bentuk kesenian dan budaya serta
bahasa yang beragam. Walaupun dalam satu wilayah terkadang memiliki bentuk seni
atau budaya yang hampir memiliki persamaan, namun tetap ada ciri khas yang
membedakan antar lainnya. Baik dalam segi nafas, gerak, iringan dan bentuk
penyajiannya. Dari sekian banyak wujud kesenian yang ada di Indonesia, tentu
seringkali kita menjumpai beberapa kesenian yang bersifat sakral, seperti apa
yang diungkapkan oleh Dr.Kuswarsantyo, M.Hum dalam Jurnal Kajian Seni yang berjudul
‘Seni Jathilan dalam Dimensi Ruang
dan Waktu’, bahwa penghadiran roh binatang dalam tradisi
kesenian jathilan dapat disebut dengan totemisme.
Tidak hanya berlaku pada kesenian jathilan,
namun ada banyak kesenian lain yang masih menggunakan kepercayaan totemisme.
Biasanya dalam penyajian kesenian tersebut selalu menghadirkan beberapa perlengakapn
sesaji atau hal berbau mistis untuk persembahan kepada leluhur atau juga roh
binatang. Tak hanya itu, alur dari bentuk sajian tersebut juga memiliki klimaks
pertunjukan dimana ada beberapa penari yang mengalami kesurupan (intrance). Seni kuda kepang dan jathilan merupakan sebuah kesenian tradisional
yang bersifat merakyat. Istilah jathilan
berasal dari masyarakat DIY, sedangkan kuda kepang (ebeg)
adalah tarian rakyat yang berkembang di Banyumas yang merupakan varian dari
tari jaran atau kuda kepang (Herawati, 2009: 4). Kedua kesenian tersebut pada umumnya
memiliki kesamaan pada : properti menggunakan kuda untuk penari, memiliki
adegan klimaks (intrance), memiliki
penabuh serta terdapat seorang dalang. Namun definisi dalang dalam jathilan dan kuda kepang (ebeg) memiliki perbedaan. Jika dalang
dalam kesenian jathilan artinya
adalah bukan pencerita seperti pertunjukan wayang, namun dalang disini berperan
sebagai pimpinan grup (Kuswarsantyo dalam Jurnal Kajian Seni ‘Seni Jathilan dalam Dimensi Ruang dan Waktu).
Sedangkan definisi dalang dalam kesenian kuda kepang (ebeg), berarti orang yang mempunyai kemampuan lebih dan mampu
menyembuhkan mereka (penari atau orang yang mengalami kesurupan atau intrance saat pertunjukan berlangsung).
Bentuk sajian dari kesenian kuda
kepang pada umumnya sama. Dari properti menggunakan anyaman bambu yang dibentuk
menjadi kuda kemudian dihias dengan manik-manik atau saput kelapa. Dari segi
iringan, sajian pertunjukan kuda kepang jaman dahulu hanya menggunakan
instrument gamelan dan menghasilkan suara ‘nang,
nong, nang, jir’ dan disajikan dengan model klasik dengan menjadikan adegan
kesurupan (intrance) atau masyarakat
banyumas biasa menyebut adegan janturan
sebagai gong dari sajian tersebut. Hanya saja, bentuk penyajian kesenian kuda
kepang dahulu biasanya masih berfungsi sebagai upacara yang bersifat sakral
atau magis. Walaupun disajikan dengan bentuk yang sederhana, kesenian kuda
kepang tetap digemari oleh masyarakat. Sebagian masyarakat yang gemar dengan
pertunjukan ini kebanyakan adalah mereka para orang tua, generasi muda kurang
begitu bisa menikmati bentuk sajian dari kesenian kuda kepang ini. Tentu saja
seiring perkembangan jaman, berbagai macam ide, inovasi dan perubahan yang
merujuk menjadi kesenian yang lebih kekinian,
namun tidak meninggalkan aturan tetap dilakukan secara perlahan. Seperti ulasan
berikut, ‘seni jathilan dari waktu ke
waktu mengalami perkembangan menyesuaikan dengan kebutuhan penanggap, dari
sisi konsep
penyajiannya pun seni jathilan
selalu dinamis mengikuti kebutuhan
berdasarkan ruang dan waktu
di mana seni menunggang kuda kepang itu dipentaskan’,
(Kuswarsantyo dalam Jurnal Kajian Seni yang berjudul Seni
Jathilan dalam Dimensi Ruang dan
Waktu). Kesenian kuda kepang (ebeg)
pun sama telah mengalami beberapa perkembangan, saat ini sudah marak sekali
grup dari seni kuda kepang (ebeg)
yang telah memberi beberapa instrument modern seperti snare drum dan keyboard
dalam instrument musiknya. Sehingga tak hanya lagi memainkan lagu-lagu klasik banyumasan namun sudah mampu memberi
nuansa campursari sesuai keinginan
konsumen atau penanggap. Dari segi
komposisi koreografinya, yang dahulu penari dari kuda kepang hanya terdiri dari
laki-laki dewasa saja, sekarang sudah banyak grup seni kuda kepang yang
menghadirkan penari perempuan (ebeg
wadon) dan penari cilik (ebeg cilik).
Hal ini tentu menjadi nilai jual dan ciri khas yang menarik dari masing-masing
grup yang dapat menjadikan grupnya semakin terkenal dan sering ditanggap. Salah satu dari grup seni
kuda kepang yang telah melakukan perkembangan tersebut adalah grup seni kuda
kepang Turonggo Lestari Mudo yang berasal dari Desa Tumanggal, Pengadegan,
Purbalingga.
Sesuai dengan pendapat Dr.
Kuswarsantyo, M.Hum dalam Jurnal Kajian Seni yang berjudul Seni Jathilan dalam Dimensi Ruang Dan Waktu
bahwa perkembangan kesenian memang terjadi karena masyarakat pendukungnya.
Kesenian kuda kepang (ebeg) saat ini
memang sudah banyak digemari oleh semua kalangan dari berbagai macam lapisan
masyarakat, hal ini diperkuat oleh pendapat Misrun yang merupakan pimpinan
sekaligus ketua dari grup seni kuda kepang Turonggo Lestari Mudo, bahwa opini
masyarakat selalu positif mengenai keberadaan seni kuda kepang, mereka sangat
berantusias ketika ada salah seorang yang memiliki hajat menanggap seni kuda
kepang, dan adegan yang paling digemari oleh masyarakat saat adegan janturan/intrance. Masyarakat
berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pertunjukan kuda kepang. Hal ini
membuat keberadaan kuda kepang semakin eksis dan diakui keberadaanya. Seperti paparan Rohmat Djoko Prakosa dalam Kuswarsantyo dalam Jurnal
Kajian Seni yang berjudul Seni Jathilan
dalam Dimensi Ruang dan Waktu yang mengatakan
bahwa, tari sebagai bagian dari kebudayaan dalam kehidupan masyarakat memiliki
kedudukan dan fungsi sebagai sarana pengikat hubungan
sosial dan memberikan kontribusi untuk menciptakan kesinambungan kehidupan sosial. Keberadaan dari seni kuda kepang
tersebut memberi umpan balik positif pada masyarakat untuk lebih menghargai kearifan
seni budaya lokal daerah. Disamping itu, nilai-nilai sosial masyarakat seperti
gotong royong, kebersamaan dan persatuan dapat terwujud dari bentuk perilaku
masyarakat baik mereka yang sudah tua ataupun masih remaja tidak malu untuk
menonton dan menikmati kesenian seni kuda kepang. Antara mereka
(penonton/penimkat) seni kuda kepang akan terjadi interaksi sosial dan tegur
sapa yang membuat masyarakat lebih bersifat ekstrovert tidak tertutup.
Dengan
sajian bentuk seni kuda kepang yang sudah mengalamami perkembangan dari
berbagai unsur penyajian dan koreografi, membuat kesenian seni kuda kepang
tetap diminati oleh anak muda. Hal ini membuktikan bahwa, seni kuda kepang
tetap eksis keberadaannya di era yang modern ini. Banyak sekali variasi
instrument, gerakan, adegan, kostum bahkan ide kreatif seperti dalam mengolah
anyaman bambu menjadi kuda tunggang penari menjadi bentuk yang lebih berwarna
dan menarik. Walaupun seni kuda kepang sudah jarang ditampilkan untuk keperluan
ritual, saat ini konsumen/penanggap
banyak yang meminta seni kuda kepang untuk ditampilkan sebagai hiburan. Tak
hanya itu, untuk mendukung kreatifitas tiap grup seni kuda kepang, pemerintah
kabupaten biasanya mengadakan lomba seni kuda kepang antar grup. Walaupun saat
ini ada salah satu grup jathilan yang
mengembangkan musik hip hop dalam sajian pertunjukannya (Kuswarsantyo dalam
Jurnal Kajian Seni yang berjudul Seni Jathilan
dalam Dimensi Ruang dan Waktu), seni kuda kepang tidak harus menjadi bentuk
sajian kesenian lain untuk menjadikan keseniannya booming. Hal ini cukup dapat dijadikan sebagai pendongkrak berkaitan
dengan bermacam-macam ide kreatif untuk mengembangakan komposisi gerak
koreografi dan pola lantainya, serta varian inovatif lainnya agar tidak hanya
memiliki satu adegan klimaks yakni intrance
atau janturan saja.
Oleh : Anung Awalia Nur Imanda
Referensi :
Herawati, Nanik. 2009. Kesenian
Tradisional Jawa. Klaten: Saka Mitra Kompetensi.
Dr. Kuswarsantyo, M.Hum. "Seni Jathilan dalam Dimensi Ruang dan Waktu"